Masa penjajahan Belanda dan Jepang
Kronik Sejarah
Menguak Sejarah Kandangan: Episentrum Perlawanan dan Logistik di Era Belanda dan Jepang HULU SUNGAI SELATAN – Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dengan Kandangan sebagai pusatnya, bukan sekadar wilayah administratif yang tenang di kaki Pegunungan Meratus. Menengok ke belakang, kawasan ini merupakan wilayah strategis yang menorehkan tinta emas sekaligus luka mendalam selama masa kolonialisme Hindia Belanda dan pendudukan militer Jepang. Karakter masyarakat Banjar Hulu yang tangguh dan religius menjadikan wilayah ini salah satu basis pertahanan yang paling sulit ditundukkan oleh penjajah di tanah Kalimantan. Era Kolonial Belanda: Benteng Perlawanan Perang Banjar dan Peristiwa Amuk Hatiwin Pada abad ke-19, Belanda memandang wilayah Hulu Sungai sebagai kawasan emas karena potensi pertanian, rempah (kayu manis), dan jalur logistiknya yang strategis membelah Kalimantan Selatan. Namun, ambisi monopoli ekonomi Belanda mendapat perlawanan sengit yang puncaknya meletus dalam Perang Banjar (1859–1905). Pusat Gerilya dan Logistik: Di bawah komando Pangeran Antasari dan para panglima lokal seperti Panglima Antaludin, kawasan perbukitan dan hutan lebat di sekitar Kandangan, padang rawa di daerah hilir, hingga Loksado dijadikan benteng pertahanan alami. Masyarakat Banjar Hulu menyuplai logistik, menyembunyikan para pejuang, dan melancarkan strategi perang gerilya yang menguras habis kas militer Belanda. Peristiwa Amuk Hatiwin: Salah satu epos heroik yang tercatat dalam sejarah lokal adalah perlawanan rakyat di Hatiwin. Semangat jihad membela tanah air membakar masyarakat Banjar Hulu untuk melakukan perlawanan terbuka (amuk) terhadap pos-pos militer Belanda yang dikenal kejam dan semena-mena. Akibat perlawanan yang terus membara, Belanda terpaksa menerapkan pengawasan militer yang sangat ketat dan menjadikan Kandangan sebagai pusat kedudukan Controleur (pejabat pengawas Belanda) untuk mengontrol pergerakan masyarakat hulu sungai. Era Pendudukan Jepang: Eksploitasi Romusha dan Penindasan di Jantung Kota Masuknya tentara Angkatan Laut Jepang (Kaigun) ke Kalimantan Selatan pada tahun 1942 mengubah peta penderitaan masyarakat Kandangan. Jepang yang awalnya datang dengan propaganda sebagai "Saudara Tua", dengan cepat menunjukkan wajah aslinya yang brutal demi kepentingan Perang Pasifik. Pusat Komando dan Pemerintahan Militer: Karena letak geografis Kandangan yang berada di tengah-tengah jalur trans-Kalimantan, Jepang menjadikan kota ini sebagai salah satu markas penting untuk mengontrol wilayah hulu sungai. Bangunan-bangunan milik Belanda dan rumah-rumah besar warga Banjar disita secara paksa untuk dijadikan kantor Kegeki (polisi militer) dan barak tentara. Tragedi Romusha dan Penindasan Ekonomi: Jepang mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia di Hulu Sungai Selatan secara besar-besaran. Pemuda-pemuda Banjar Hulu dipaksa menjadi Romusha (buruh paksa) untuk membangun jalan, jembatan, dan parit-parit pertahanan di sepanjang kaki Pegunungan Meratus. Hasil pertanian warga, terutama padi dan karet, disita hampir seluruhnya untuk kebutuhan logistik perang Jepang, menyebabkan bencana kelaparan dan kemiskinan yang ekstrem di wilayah yang sejatinya subur ini. Warisan Sejarah: Fondasi Karakter Masyarakat yang Merdeka Masa-masa kelam di bawah cengkeraman penjajahan Belanda dan Jepang tidak lantas meruntuhkan mental masyarakat Hulu Sungai Selatan. Penindasan tersebut justru mengkristalkan semangat nasionalisme yang kuat. Puncaknya, pasca-proklamasi kemerdekaan, para pemuda dan pejuang gerilya yang berbasis di Pegunungan Meratus membentuk kesatuan tangguh di bawah bendera ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang dipimpin oleh Hassan Basry. Mereka memastikan bahwa bumi Kandangan sepenuhnya bersih dari sisa-sisa kekuatan asing. Saksikan dan pelajari langsung tapak tilas perjuangan para pahlawan Bumi Antaludin. Kami menyediakan paket edutour sejarah yang merangkum kunjungan ke situs-situs benteng pertahanan kuno, tugu perjuangan, serta narasi sejarah lokal yang mendalam di Hulu Sungai Selatan. Hubungi kami sekarang untuk reservasi perjalanan edukasi Anda!