Kembali Ke Jejak Sejarah
Rekam Perjuangan HSS

Masa Kesultanan Banjar dan Perang Banjar

Tahun Peristiwa1859–1905

Kronik Sejarah

Kandangan dalam Linimasa Emas: Era Kesultanan Banjar hingga Kobaran Nyala Perang Banjar HULU SUNGAI SELATAN – Eksistensi wilayah Hulu Sungai Selatan (HSS) dengan pusatnya di Kandangan memiliki ikatan historis dan spiritual yang sangat kuat dengan pasang surut Kesultanan Banjar. Jauh sebelum masa kolonialisme mereduksi wilayah ini menjadi distrik administratif, kawasan Hulu Sungai atau Banua Enam adalah wilayah inti yang menyokong kedaulatan, ekonomi, dan identitas religius Kesultanan Islam Banjar, sebelum akhirnya menjadi episentrum pertempuran paling berdarah di Borneo: Perang Banjar. Era Kesultanan Banjar: Jantung Pangan dan Benteng Religius Kerajaan Pada masa kejayaan Kesultanan Banjar (yang berpusat di Banjarmasin dan kemudian bergeser ke Martapura), kawasan Hulu Sungai, termasuk wilayah Kandangan, memegang peran yang sangat vital dalam struktur kerajaan: Lumbung Pangan Utama: Wilayah hulu sungai memiliki tanah yang subur dan sistem rawa banjiran yang melimpah. Masyarakat di wilayah ini adalah pemasok utama komoditas padi, perikanan air tawar, serta hasil hutan seperti karet dan kayu manis yang menjadi komoditas ekspor andalan kesultanan ke pasar internasional. Pusat Lahirnya Ulama dan Karakter Agamis: Sesuai dengan pembagian kulturalnya, masyarakat Banjar Hulu dikenal memiliki ketaatan keagamaan yang sangat tinggi. Dari wilayah hulu sungai inilah lahir sistem pendidikan Islam tradisional (pesantren kuno) dan ulama-ulama yang menjadi penasihat spiritual serta penyusun hukum syariat di lingkungan Kesultanan Banjar. Wilayah Otonom Adat: Meskipun tunduk pada otoritas Sultan, wilayah hulu sungai sering kali dipimpin oleh para kepala suku atau penguasa lokal (Lurah/Patih) yang memiliki kedekatan emosional dan garis keturunan dengan keluarga istana, memberikan mereka ruang otonomi yang cukup besar untuk mengelola wilayahnya sendiri. Pemicu Perang Banjar: Intervensi Belanda dan Robeknya Kedaulatan Ketenangan di bumi hulu sungai mulai terusik ketika Hindia Belanda mulai melakukan intervensi politik secara kasar ke dalam urusan internal Kesultanan Banjar pada pertengahan abad ke-19. Puncaknya terjadi ketika Sultan Adam wafat pada tahun 1857. Belanda secara sepihak mengangkat Pangeran Tamjidillah—yang tidak disukai rakyat dan dianggap sebagai boneka Belanda—sebagai Sultan, serta menyingkirkan Pangeran Hidayatullah yang sejatinya merupakan pewaris sah yang didukung penuh oleh rakyat dan para ulama hulu sungai. Penghinaan terhadap martabat kesultanan dan tekanan ekonomi akibat sistem monopoli Belanda memicu kemarahan kolektif. Pada tanggal 18 April 1859, di bawah pimpinan Pangeran Antasari, perlawanan bersenjata secara terbuka resmi meletus, menandai dimulainya Perang Banjar (1859–1905). Kandangan sebagai Episentrum Gerilya dan Pertahanan Terakhir Ketika kota-kota pesisir berhasil dikuasai oleh teknologi militer Belanda, arah komando Perang Banjar bergeser total ke wilayah pedalaman. Kandangan dan wilayah sekitarnya di Hulu Sungai Selatan bertransformasi menjadi basis pertahanan paling krusial: Pusat Logistik dan Markas Strategis: Karakter geografis Kandangan yang dikelilingi rawa di satu sisi dan benteng alami Pegunungan Meratus di sisi lain menjadikannya tempat ideal untuk memproduksi senjata tradisional, mengumpulkan logistik pangan, dan melatih para pejuang gerilya. Peranan Tokoh Lokal dan Panglima Antaludin: Di wilayah inilah lahir perlawanan yang dipimpin oleh tokoh pergerakan lokal yang legendaris, Panglima Antaludin. Bersama tokoh-tokoh hulu sungai lainnya, mereka mengonsolidasikan kekuatan masyarakat Banjar Hulu dan masyarakat adat Dayak Meratus. Penyatuan dua kekuatan ini melahirkan kekuatan gerilya yang sangat ditakuti oleh serdadu Belanda karena taktik hit-and-run yang menguasai medan hutan. Benteng Pertahanan Gunung Madang: Salah satu situs pertempuran paling ikonik di Hulu Sungai Selatan adalah Benteng Gunung Madang. Di benteng alami inilah para pejuang Banjar mempertahankan wilayah hulu dari gempuran pasukan meriam Belanda dengan gigih, menjadikannya simbol batas suci yang sulit ditembus penjajah. Meskipun Kesultanan Banjar secara sepihak dihapuskan oleh Belanda pada tahun 1860, perlawanan rakyat di hulu sungai tidak pernah padam. Bahkan setelah Pangeran Antasari wafat pada tahun 1862 di hulu Barito, para penerusnya dan sisa-sisa laskar hulu sungai terus mengobarkan perang gerilya hingga awal abad ke-20 (1905). Warisan Falsafah Waja Sampai Kaputing Romantisme sejarah masa Kesultanan dan heroisme Perang Banjar telah membentuk genosida mental masyarakat Hulu Sungai Selatan hari ini. Dari perang inilah lahir semboyan legendaris: "Waja Sampai Kaputing" (Baja Sampai ke Ujungnya), yang berarti berjuang dengan tekad yang kokoh bagai baja hingga titik darah penghabisan. Eksplorasi bumi hulu sungai dengan kacamata sejarah yang mendalam. Dalam paket wisata sejarah kami, Anda akan diajak mengunjungi situs-situs benteng pertahanan Perang Banjar, tugu peringatan pahlawan, hingga mempelajari relasi kuno antara Kesultanan Banjar dan masyarakat adat Meratus Loksado. Hubungi kami sekarang untuk memesan petualangan sejarah Anda!

Masa Kesultanan Banjar dan Perang Banjar - Sejarah Hulu Sungai Selatan